Chapter two—serapuh itukah aku?

Hari ini aku perjelas lagi. Rasa - rasanya jiwa tenangku mulai terusik, duniaku runtuh bak serbuk bunga, di lanjut dengan berbagai macam hal yang berputar di otakku. Aku tanya sekali lagi pada diriku, mengapa semuanya terjadi begitu cepat? Dunia menghancurkanku, memutariku dan menertawaiku.

Oke. Aku malu dengan diriku sendiri, aku membendung semua air mata sendiri. Menangis dalam gelap, menahan sesak agar tak terlalu keras dari mulut, mengusap linangannya sendiri, menguatkan hati, memantapkan pikiran, dan yang paling parah adalah mencoba tidak apa - apa dibalik pertanyaan orang. 

Sesakit itukah aku? Memendam berbagai peluh sendiri? Mengusap dengan tangan kosongku yang gemetar ini? Takut terhadap nasibku ketika dunia luar menghampiri?

Kubuka jendela, kutatap langit - langit mengadah awan. Ternyata, ketika aku sedih pun, semesta tak ingin kucintai, ia masih sama, cerah dengan cuacanya dan lalu lalang manusia tetaplah seperti biasa, menandakan bahwa dunia tak apa tanpa air mataku. Aku berpikir dua kali, apa semesta tak ingin sedih untukku juga?

Jawabannya tidak. Aku menangisi nasibku sendiri, takdirku menertawaiku, kemudian membalik pondasiku. Ternyata, aku terlalu sering memeluk semesta, sampai aku lupa aku berasal dari tanah, lantas mengapa aku terlalu melangit? Bahwa aku ini harusnya membumi?

Aku lupa identitasku sebagai manusia, aku juga lupa bagaimana aku hidup sebagai manusia. Aku terlalu egois memeluk semesta hingga lupa bahwa aku ini tak ada apa - apanya. Duniaku hancur detik itu juga,  kenyataan menamparku sedemikian rupa, semua semangat hilang tanpa warna, tujuan hidupku sirna seketika. 

Dengan alam yang enggan menyatu denganku, semesta yang tak ingin kucintai, manusia yang selalu menyakiti, aku tersenyum. Sekian kali aku tersenyum dan menyembunyikan airmata, begitu sakit, kejam, dan sulit menerima semuanya. Aku dituntut untuk pribadi yang lebih baik, tapi mengapa? Tiada dukungan yang bahkan sukar aku dapatkan?

Kini, aku menemukan jawabannya, ya, aku lemah, aku hancur, hari ini ada pagi yang menyambutku penuh luka, tetapi aku tetap tersenyum. Bahkan, aku sedikit lupa bahwa aku harusnya memiliki bahagia, luka sudah membuatku mati rasa, hanya gelap yang kurasa. Enggan membuka mata, masih sama kuingin memeluk diriku dalam pilu, kemudian menyambut isak tangis dengan haru.

Serapuh itukah aku menjadi manusia? Tidak sekuat itukah aku? Aku hanya diam, meneteskan airmata lagi. Bahkan detik ini, aku terus lupa caranya memberhentikan airmata ini.

Ya. Aku lupa bagaimana jiwaku telah hilang dan berganti.


05.15
Sincerely,
Me.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter one—sendiri.