Chapter one—sendiri.

Kalau kamu menjadi manusia yang ingin untuk hidup paling kuat dan sendiri. Itu bukan egois, wajar saja, ketika tak ada wadah untuk menampung kita bercerita, tetaplah bercerita pada dirimu sendiri. 

Membuat segala kenangan dan alur cerita dalam kehidupan sendiri, berbicara sendiri, seolah menguatkan diri dan mencoba untuk tak ada apa apa. Walau sejatinya kamu tak sendiri, tetap ingat, kadang manusia perlu banyak waktu untuk memahami dirinya, berbicara dan menopang pondasi untuk kekuatan selanjutnya. Dan kadang, berbicara pada diri sendiri itulah memang jalannya.

Ingat juga. Bahwa semua masalah di dunia ini tak jauh - jauh untuk mengembangkan diri ke next level bukan? Lalu mengapa masih bersedih?

Itulah. Kita perlu di hantam ombak besar supaya tak lupa daratan. Begitulah, kita tak seharusnya melupakan Tuhan di dalamnya, tak menduakan Dia di sela - sela sujudmu. Dan itulah, cara manusia mengenal satu sama lain untuk berbagi cerita.

Sejujurnya. Masalah yang kita hadapi itu sama, hanya saja, setiap orang mampu menghadapinya dengan berbeda. Di episode terakhir, bahagia atau tidak jalan hidupmu, itu tetap pada pilihanmu sendiri, dan kamu tetap menjadi bagian dari kisah ceritamu sampai kapanpun.

Jika ada orang yang merasa sendiri lagi. Ingatkan, masih banyak rangkulan dan jari jemari untuk meraih yang lain. Masih banyak orang yang di kuatkan satu sama lain. Menangislah, sampai benar - benar membuatmu tenang, lalu hapuslah, ketika tangan datang dan membawamu pergi dengan tenang.

05.29
Sincerely,
Me.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter two—serapuh itukah aku?