Chapter two—serapuh itukah aku?
Hari ini aku perjelas lagi. Rasa - rasanya jiwa tenangku mulai terusik, duniaku runtuh bak serbuk bunga, di lanjut dengan berbagai macam hal yang berputar di otakku. Aku tanya sekali lagi pada diriku, mengapa semuanya terjadi begitu cepat? Dunia menghancurkanku, memutariku dan menertawaiku. Oke. Aku malu dengan diriku sendiri, aku membendung semua air mata sendiri. Menangis dalam gelap, menahan sesak agar tak terlalu keras dari mulut, mengusap linangannya sendiri, menguatkan hati, memantapkan pikiran, dan yang paling parah adalah mencoba tidak apa - apa dibalik pertanyaan orang. Sesakit itukah aku? Memendam berbagai peluh sendiri? Mengusap dengan tangan kosongku yang gemetar ini? Takut terhadap nasibku ketika dunia luar menghampiri? Kubuka jendela, kutatap langit - langit mengadah awan. Ternyata, ketika aku sedih pun, semesta tak ingin kucintai, ia masih sama, cerah dengan cuacanya dan lalu lalang manusia tetaplah seperti biasa, menandakan bahwa dunia tak apa tanpa air mataku. Aku...